Siang itu, saya iseng-iseng berburu kuliner ke daerah Grogol. Sambil ngobrol santai dengan seorang teman serta merta ia menunjuk ke rumah makan ayam goreng di jalan Dr. Muwardi, seberang apotik Trisakti. Sepintas tempat makannya terlihat sepi dari luar, agak luas juga terlihat dari belasan meja dan kursi yang dibagi empat-empat.
Agak ragu awalnya melihat sepinya pengunjung di sana. “Jangan-jangan tidak enak dan mahal,” ujar saya pelan berbisik ke telinga kawan. Ia tetap memaksa masuk dan meyakinkan kita untuk mencoba terlebih dahulu. Apa boleh buat, perut sudah mulai lapar dan tempat makan lainnya di sekitar jalan itu pun tampak penuh. Kami masuk, memesan ayam bakar dan ayam keremes.
Agak lama menunggu, sekitar 15 menit, datang juga pesanan kami. Ayam bakar dan gorengnya agak bikin surprise, karena hadir dalam ukuran yang menurut saya, kecil! Masih panas, cokelat kehitaman dari kecap dan sisa bakaran arang serta aroma khasnya segera terhirup. Sementara nasi uduk pesanan kami disajikan tidak terlalu panas dengan taburan bawang goreng di atasnya. Hmm, aah, sudahlah, mari kita makan!
Suapan pertama, daging ayamnya cukup lembut. Rasanya pun enak dengan bumbu yang meresap dalam daging. Okelah, boleh juga diadu. Suapan kedua saya coba dengan sambal goreng yang disajikan. Pedasnya pas, meski terasa agak sedikit manis. Tapi secara kombinasi ayam bakar dan sambelnya masih bisa dicerna lidah dengan oke. Sip lah.
Lalapan yang disajikan juga termasuk segar, salada air dan timun disajikan komplit. Saya periksa semua masih dalam kondisi baik, tidak layu ataupun dimakan ulat. Apalagi setelah dimakan, kesegaran lalapannya membuktikan hal tersebut.
Kembali ke menu ayam, langsung melihat penampakan ayam goreng kremes yang disajikan. Okelah, cukup renyah saat kita kunyah. Sebagai hiburannya disajikan tepung keremes sepiring besar untuk menemani. Renyah, krispy meski tidak terlalu hangat lagi, mungkin digoreng terlebih dahulu jadi disajikan tidak lagi panas. Seluruh menu tadi kami habiskan kurang dari lima belas menit. Diselingi ngobrol ringan dan ketawa-ketiwi, total jenderal hampir 45 menit kami habiskan waktu di sana.
Ternyata ayam goreng dan bakar Muwardi ini boleh juga dijadikan menu variasi bagi penggemar hidangan sejenis. Saya sempat melihat di papan menu terdapat beberapa menu lain bagi kalian yang tidak menyukai ayam, seperti rawon, kupat tahu, lontong lamongan dan lain sebagainya. Sayang kami belum berkesempatan mencicipinya, lain kali saja.
Kekurangannya adalah lamanya waktu menyiapkan hidangan. Padahal saat itu resto itu tidak ramai. Kami saja termasuk pelanggan pertama yang dilayani, baru setelah itu ada dua orang pemuda dan beberapa saat kemudian seorang pekerja kantoran bergabung. Ini jadi catatan, apalagi dalam bisnis kuliner pelayanan kerap menjadi kepuasan pelanggan, termasuk soal urusan waktu serving yang tidak boleh terlalu lama.
Untuk harga tidak terlalu merusak kantong. Seporsi ayam bakar, nasi uduk dan minum teh hangat dilabeli sekitar 16 ribu saja. Cukup paslah untuk urusan mengisi perut di siang hari atau sekedar mencari selingan menu karena bosan dengan makanan yang itu-itu saja. So, untuk keseluruhan rumah makan ayam goreng dan ayam bakar Muwardi ini saya berikan nilai tujuh. Bolehlah! (yuk)
